LS-ADI

Sekitar tahun 1990-an, aktivitas mahasiswa dalam lembaga formal seperti organisasi-organisasi kampus maupun di luar kampus, seperti yang telah kita ketahui, dimandulkan oleh Orde Baru. Pemandulan ini menjadikan mahasiswa mencari format baru bentuk apresiasi kebebasan mereka dengan bentuk alternatif lain yang lebih strategis, walaupun pada saat bentuk perjuangan berada di simpang jalan akibat kegagalan demi kegagalan yang mereka dapati pada angkatan-angkatan sebelumnya ketika berhadapan dengan kekuasaan rezim Orde Baru.

Muncul kemudian kelompok-kelompok studi sebagai wadah alternatif untuk mengaspirasikan kreasi sekaligus wadah perjuangan mahasiswa dalam format yang baru, dan berharap format tersebut sebagai “wadah yang strategis” (seperti yang telah tercatat dalam sejarah bahwa beberapa tahun kemudian hal ini telah terbukti). Kelompok studi ini kemudian menjamur dan menjadi “trend” di kalangan mahasiswa di kota-kota besar khususnya di pulau Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan lainnya.

Kelompok studi dipilih sebagai “wadah yang strategis” dengan alasan bahwa kelompok studi bisa dibentuk oleh siapa pun mahasiswa, cenderung anti-birokratis dan tidak dapat dikontrol oleh pemerintah. Andai pun bisa, tetap dapat tumbuh lagi, kapan dan di mana pun, walaupun harus berpindah-pindah ketika rezim mulai mencium aroma makar gerakan mahasiswa.

Kegiatan kelompok studi tersebut, yang mayoritas berbentuk forum diskusi, berkisar seputar masalah sosial, ekonomi, budaya, maupun agama. Persoalan politik saat itu belum gencar sebab masih terselimuti oleh polesan keberhasilan pembangunan Orde Baru Namun sejak tahun 1995 ke atas, ketika persoalan-persoalan yang mengindikasikan ketimpangan sosial kian menguat, ketidakadilan muncul dimana-mana, dan rezim mulai mempertontonkan sifat otoritarian–nyaris fasis–nya, wacana-wacana politik kemudian menjadi gencar, bersamaan dengan kajian-kajian yang berkaitan dengan persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Mahasiswa mulai menunjukkan “taring” nya ketika pola perjuangan dan kritisisme mahasiswa terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial, ekonomi, politik dan lainnya berkisar hanya pada kajian saja, ataupun bertumpu pada pergerakan pada tataraan konseptual, tetapi juga diimplementasikan pada satu gerakan yang lebih dari itu untuk menjadi roda bagi berjalannya rumusan konseptual dan teoritis tersebut.

Dalam konteks seperti itulah LS-ADI lahir. LS-ADI kemudian merumuskan dan memfokuskan diri untuk studi sekaligus aksi. Studi diorientasikan untuk merumuskan konsep ideal dan sistematis bagi pencapaian demokrasi. Disamping juga refleksi, evaluasi, dan studi kritis tentang realitas sosial politik di Indonesia. Aksi dimaksudkan untuk menjalankan seluruh format teoritis dalam kerja yang sistematis dan terarah sebagai upaya mendorong pencapaian demokrasi.

.

  • Website LS-ADI
  • LS-ADI Wiki
  • Arsip LS-ADI
  • 3 thoughts on “LS-ADI”

    1. Fathan Aniq said:

      elpablo unido yamasera punsido! bener ga tulisannya mas aniq? aq dapat dr darno

    2. trus bahasa Belanda n bahasa Lomboknya, piye?

      o iya, Fathan iku pernah nimbrung di LS-ADI. Pernah jadi wartawan Derita UIN. Saiki dia kul di negeri penjajah, Belanda.

      rizal

    3. yamasera benar2 ku jadikan nama mobil truck ku melalui proses spiritual.dulu hampir aku kasih nama kaliserang.krn lokasinya d kaliserang ds trukan sambiroto pracimantoro.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s