_Cover jpg-Mockup

Buku ini memuat 5 kisah kaum minoritas di Indonesia, yakni pengungsi Ahmadiyah di Lombok, Komunitas Sapta Darma di Yogyakarta, Suku Kajang di Sulawesi, Kristen dengan kasus gerejanya, dan kisah seorang Salik sang Pencari Tuhan.

Resensi dan Liputan Launching:

– Dunia Yang Terluka
— Kegentingan dalam Kelakar “Kuburlah Kami Hidup-hidup”
– Warisan Rezim SBY
– Wajah Toleransi Yang Terkoyak
Potret Ironi Negeri Bhinneka
– Diskriminasi itu Luka, Kuburlah kami hidup-hidup
Lima Kisah Dramatis Kelompok Minoritas
Kuburlah Kami Hidup-hidup: Menyoal Proses Bernegara yang Belum Selesai
Potret Kecil Minoritas Tersingkir
Kuburlah Kami Hidup-hidup: Buku Utang Kita pada Indonesia
Bau Kemenyan di Launching Buku
Mereka Mati Sebelum Meninggal

Komentar-komentar:

– Nia Sjarifuddin
Pdt Gomar Gultom
– KH Husein Muhammad
Andreas Harsono
Sari Safitri Mohan
Siti Musdah Mulia
Jonminofri Nazir
Ade Armando
Fahd Djibran
Siti Aminah
Pdt. Albertus Patty
Mohamad Guntur Romli
Dewi Candraningrum
Andy Yentriyani
Neng Dara Affiah
Jamal D. Rahman

Mau Membeli Buku Ini?

Sementara ini saya menjual buku saya melalui:

1. Toko Buku Delapan (The Wahid Institute)
Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Pegangsaan Jakarta Pusat

2. Penjualan online secara pribadi:

Harga Bandroll buku: Rp. 35.000 ,-
Khusus Jabodetabek: Rp. 40.000,- bebas ongkos kirim
Luar Jabodetabek: Rp.35.000,- plus ongkos kirim (bisa dicek di website JNE dan TIKI
Atau kalau males membuka website JNE dan TIKI, biar kami yang mengeceknya untuk Anda. Masukin saja pertanyaan Anda di komen bawah.

Transfer uang pembelian Anda melalui:
Rekening atas nama Aniqotul Ummah
BCA: 676 0148 456
Mandiri: 164 0000 630 287

Konfirmasikan melalui SMS ke nomor: 08170070216 atau inbox Facebook: Aniqotul Ummah. Sebutkan data pengiriman Anda (tanggal, jam, jumlah, nama Anda, lalu alamat pengiriman Anda). Ada baiknya jika melakukan transfer melalui ATM atau mobile banking, sesuaikan 2 angka terakhir pengiriman dengan nomor HP Anda. Misal: Nomor Anda 08170070216. Data pengiriman: 18 Februari, 15.23, Rp. 40.016, Ibu Lastri, Jl. Cinta Nomor 5 Tangerang 15417

Judul Buku            : Kuburlah Kami Hidup-Hidup

Pengarang             : Anick HT

Penerbit                 : Indonesian Conference of Religion and Peace, Jakarta Tahun : 2014, Cetakan Pertama

Jumlah halaman     : 168 halaman

ISBN                     : 978-979-18746-2-5

Harga Buku            : Rp. 35.000,00

Peresensi               : Ani Ema

 

Membaca dan memaknai puisi esai dari buku berjudul Kuburlah Kami Hidup-Hidup karya Anick HT membuat mata saya terbuka kembali, mengkaji lagi dunia sosial di sekitar saya. Ketidak adilan dan diskriminasi masih tumbuh subur di negara yang notabenenya jumlah muslimnya terbesar di dunia. Bahkan, saya jadi berpikir lagi, apakah jumlah muslim terbesar tersebut hanya KTP saja tidak dibarengi dengan kualitas iman dan akhlak yang diajarkan oleh Al Quran, sehingga sangat mudah ditunggangi oleh penyusup licik yang mengatasnamakan agama dan negara serta kekuasaannya untuk mengambil hak-hak manusia lain di bumi Indonesia ini.

Dari lima kisah yang dituturkan, saya terkesima saat sekarang di mana manusia dibilang semakin beradab dengan kecanggihan dunia digital dan kemudahan akses teknologi akan tetapi nilai-nilai kemanusiaan yang dipegang tidaklah sebanding dengan kemajuan zaman. Kalaupun 14 abad yang lalu, di mana rasul terakhir masih hidup, saat peradaban Islam berjaya dengan teknologi yang tidak secanggih saat ini kehidupan warga yang non muslim sangat dilindungi hak-haknya. Proses islamisasi yang dilakukan orang muslim atau biasa disebut dengan dakwah itu pun harus dilakukan dengan santun, kalaupun mengharuskan terjadinya perang seperti di awal-awal zaman diturunkannya Islam dari langit, peperangan tersebut karena alasan membela diri. Muslim di zaman nabi tidak pernah memulai pertempuran.

Saya menemukan potret kehidupan orang-orang yang mengaku muslim dan bertopeng di balik negara dan menggunakan kekuasaannya lalu mengatas namakan Islam yang menegakkan kalimat tauhid Tiada Tuhan Selain Allah dengan tindakan keji yang jauh dari akhlak Islami, sebut saja pada bab pertama, kita akan disuguhi oleh cerita Puto yang harus berganti nama Umar dalam kisah Olenka, generasi yang hilang. Tekanan batin seorang penganut aliran kepercayaan Patuntung yang tidak diakui oleh negara sehingga dalam KTP mereka oleh oknum negara (RT/RW) harus mencantumkan agama Islam, sehingga harus belajar Iqra, wajib menggunakan baju panjang dan kerudung, sedangkan mereka adalah non muslim, bagaimana bisa agama dipaksakan seperti ini? Agama yang semula menentramkan karena dipaksakan akhirnya menjadi keresahan, apalagi cara menyampaikannya dengan tidak santun.

Anick melalui Puto, sang karakter penganut Patuntung mengakui bahwa Tuhannya satu, ada kehidupan lain setelah kematian, hubungan dengan alam begitu baik. Mereka adalah penjaga kelestarian hutan, malah lebih bertanggung jawab dibandingkan para pengusaha pembalakan hutan secara liar yang kadang mereka mengaku agamanya muslim, merusak ekosistem di bumi dengan mengganti hutan dengan perkebunan sawit yang menghasilkan untung besar demi kekayaan pribadi serta mengusir orang utan dari habitat aslinya. Puto kalah oleh kekuasaan negara yang mengharuskannya menjadi Islam KTP, negara tidak mau mencantumkan kepercayaan Patuntung, Puto juga tidak mau mengisi dengan aliran kepercayaan kepada Tuhan Y.M.E. Keresahannya yang mendalam ada pada bait berikut ini:

 

Tiada muslim setengah, Puang

tiada muslim Patuntung

muslim muslim

Patuntung Patuntung

 

Pada bab kedua, kita akan menyelami bagaimana seorang anak yang menyaksikan penyerangan terhadap aliran kepercayaan Sapta Darma oleh muslim berjubah yang mengatasnamakan dirinya sebagai pejuang Islam memerangi kekafiran. Saya bertanya-tanya, kenapa Indonesia hanya mengakui 5 Agama dan satu kepercayaan saja, sehingga saat membuat KTP bagi warga negara yang mempunyai kepercayaan selain ke enam tersebut harus menuliskan sebagai muslim. Jangan-jangan karena inilah jumlah muslim secara KTP di Indonesia tergolong paling besar di dunia. Karena kebohongan yang dipaksakan oleh negara agar warga mengikutinya atau ini karena kebodohan pranata pemerintahan (RT/RW). Akhirnya, penyerangan yang dilakukan oleh para pejuang yang mengatasnamakan Islam untuk memerangi warga muslim yang tidak melakukan ibadah sesuai ajaran Islam pun tidak terelakkan. Alangkah indahnya jika mereka-mereka yang menganut kepercayaan tersebut tidak dipaksakan untuk menuliskan agama Islam di KTP mereka, jadi muslim tidaklah terbatas KTP saja, tentu saja dibarengi dengan kualitas akhlak yang mencintai kedamaian dan keselamatan bersama.

Dialog yang menyentuh logika saya dalam memahami kebodohan kekuasaan negara dalam membuat pertumpahan darah sesama manusia, ada pada bait berikut ini:

 

Kami ini bukan muslim jika itu yang ingin Anda dengar

Sontak Gemuruh dan Warno, Ibu

aku melihatnya melantang suara

Tapi KTPnya Islam!

 

Bab ketiga dengan judul Kuburlah Kami Hidup-Hidup, mengisahkan bentuk penawaran dari muslim Ahmadiah kepada negara ini agar mendapatkan ketenangan. Ahmadiah dianggap sesat oleh MUI bahkan di negara asalnya di Pakistan, Ahmadiah sudah dinyatakan sesat karena mengakui adanya nabi baru, Mirza Ghulam Ahmad. Namun, kalaupun terjadi peperangan untuk orang yang beradab syarat utama harusnya wanita dan anak-anak tidak boleh ikut serta. Yang mencuri perhatian saya adalah bagaimana kisah sang anak bernama Aisyah yang hingga ratusan hari tidak bisa tersenyum karena trauma yang dialaminya, harus kehilangan kaki dan kedua orang tuanya di saat penyerangan terhadap Ahmadi di Lombok saat itu.

Anick cukup mampu membawa emosi saya ke dalam jiwa-jiwa anak kecil yang tidak berdosa yang harus menanggung perbuatan orang dewasa. Kehilangan kaki dan orang tua lalu tinggal di sebuah penampungan sendirian bisa jadi akhir keceriaan bagi Aisyah, sampai suatu ketika ada Zainab yang selalu membagi dua jam ratusan hari di hidupnya untuk menemani Aisyah di kala senja hanya menginginkan Aisyah kembali tersenyum. Sungguh kisah ini mengingatkan saya bahwa di negeri ini akan selalu ada manusia baik yang mengorbankan waktunya untuk generasi penerus bangsa seperti Aisyah.

 

aku dan kursi roda ini bersaksi

bahwa sepotong senja itu mahal harganya

demi secuil senyum Aisyah, si gadis kecil

 

Hingga tak terasa sampai bab empat “ Bu Murti Diculik Wiro Sableng” yang berkisah mengenai perjuangan dan kesulitan yang dihadapi para pemeluk agama Kristen maupun Katolik dalam membangun tempat peribadatan mereka di daerah sekitar Jabodetabek. Cukup mencengangkan kasus kesulitan pembangunan gereja ini bisa terjadi, karena dari beberapa hasil penelitian jumlah gereja itu lebih banyak daripada masjid di Jakarta. Dan saya sedikit membuka mata, mungkin kasus ini adanya di pedesaan yang kental dengan kehidupan orang muslim. Saya sekilas melihat pemerintah cukup menghormati kehidupan agama orang Kristen dan Katolik kalau dilihat hari libur tiap pekannya jatuh di hari Minggu bukannya hari Jumat, tentunya umat kristiani lebih leluasa beribadah dibandingkan jika liburnya hari Jumat—hari jumatan/ ibadah muslim.

Saya mengikuti kisah yang dialami seorang pendeta bernama Bruno yang secara intens diikuti dari detik ke detik pergulatan pikirannya saat akan meninggalkan Indonesia menuju tempat yang lebih tenang, yaitu saat di ruang tunggu keberangkatannya menuju gereja Gummersbach, Jerman menggunakan Qatar Airways. Pergulatan batin yang lebih dalam lagi saat salah satu jemaatnya yang jujur dan loyal bernama Murti yang sekaligus bendahara gereja diculik oleh sekelompok orang yang berkuasa dengan ormasnya yang bernama Wiro Sableng. Kita akan mengikuti bagaimana pergulatan antara tanggung jawab seorang pemimpin agama yang hidup di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan dengannya. Benih kecurigaan dan ketakutan misionaris atau mengkristenkan para muslim yang hidup di bawah kemiskinan itu sering dijadikan senjata untuk mengobarkan api kebencian kepada para anggota Wiro Sableng yang kadang mereka juga tidak paham dengan ormas yang mereka ikuti. Hal itulah yang terungkap dalam salah satu bait sudut pandang dari seorang pendeta Bruno:

 

Dan 13 tahun ini memaksanya untuk menyelami agama macam apakah islam itu

-yang muncul dalam wajah mengerikan di hadapannya

apa itu kafir, murtad, ahlul kitab

apa itu sunni, syiah dan ahmadiyah

 

Sebagai bab terakhir sebagai penutup, bab kelima “Tunjukkan Di Mana Rumah Tuhan”, Anick meramu kisah tentang pengembaraan manusia dalam memikirkan keberadaaan Tuhan secara nyata. Manusia itu sebut saja Salik yang secara sufisme membersihkan dan memurnikan jiwa. Dalam perjalanan panjang, ia menemukan bahwa Tuhan akan dekat kepada mereka yang dengan tulus mendekatinya. Bangunan rumah Tuhan yang megah itu tidaklah menjadi ukuran kedekatan para manusia dengan Tuhannya. Bahkan, bisa dibilang orang-orang yang tinggal dan mencari hidup dari sampah itu lebih dekat kepada Tuhan daripada mereka yang hidupnya membawa simbol agamanya.

Itu terungkap dalam bait:

 

agama tak sebangun dengan lembaga bernama agama

rumah ibadah tak berarti rumah Tuhan

tempat sampah tak berarti rumah setan.

 

Agama memang bukan lembaga. Bagi saya yang awam ini, agama itu keimanan di dalam hati yang mengesakan Allah dan menjadikan The Prophet Muhammad sebagai pembawa risalah dalam hidup. Sejauh saya belajar filsafat dan bertanya mengenai Tuhan dan keberadaannya, saya akan menemukan jawabannya walaupun selanjutnya lahir pertanyaan-pertanyaan yang baru.

Sudah terlihat daya tarik di buku ini, di tiap baitnya terangkai indah, berkisah, berima dan bermetafor mengenai ketidakadilan di Indonesia. Anick membawa kita ke dunia mereka yang mengalami tindak diskriminasi itu hingga selesai membacanya masih membekas di benak saya. Saya tidak tahu apakah potret di buku itu adalah bentuk diskriminasi terakhir? Namun yang pasti, bagi saya sebagai manusia, saya akan jalani kehidupan saya seperti Zainab yang menemani Aisyah, karena begitulah seharusnya perilaku manusia berbudi dan beragama.

 

- Sumber: http://inspirasi.co/forum/post/4060/dunia_yang_terluka#sthash.fQ5g7W4x.dpuf

Isu diskriminasi sangat pekat di Indonesia. Adanya penolakan terhadap yang bukan golongannya semakin digelorakan; dari mahzab ke mahzab, dari sosial ke ruang ruang struktural. Begitulah secara nyata kaum mayoritas di negeri ini memamah biak untuk memangsa kaum minoritas; baik dari asal-usul keyakinan, agama maupun sosial; dunia seakan milik kaum superior dan tidak ada tempat bagi kaum mayoritas.

Sementara itu kaum minoritas berharap cemas dengan pelbagai “kepentingan” yang digaungkan oleh kaum mayoritas—ini berlaku bagi aspek apapun—dan lebih kejamnya separuh lubang minoritas ini menjadi titik masuk untuk memasang perangkap dari kaum minoritas itu. Terutama dalam kerangka politis—politik praktis, ekonomi, kebudayaan dan pembangunan.

Nampaknya sangat paradoks, jika dibandingkan dengan “ideologi” negara yang mengusung pancasila. Sikap saling menghormati, menghargai satu sama lain harus dijadikan landasan sosial. Ini harga mati, sebab negara Indonesia sudah mengikrarkan Bhineka Tunggal Ika: berbeda tetap satu jua.

Secara sosial, baik isu atau laku konflik diskriminatif harus segera disadari oleh berbagai pihak untuk dihindari. Namun, proses penyadaran itu perlu menitik pada kesadaran ruang sosial. Para aktivis sosial, peneliti, tidak henti-hentinya menyerukan untuk dapat berlaku menghargai sesama. Toleransi adalah harga mati. Ini penting diperhatikan jika melihat sejumlah ungkapan para pegiat sosial-keagamaan yang ada di Indonesia.

Tentu saja sejumlah kasus konflik yang pernah terjadi—baik agama ataupun sosial–namun, lain halnya dengan seorang Anick HT.  Ia kerapkali dikenal sebagai peneliti sosial pada isu yang terkait plularisme, toleransi dan diskriminasi. Ia sudah bergelut sekian lama dengan isu-isu yang “genting” di Indonesia. Sebagai pengelola Democracy Project, Yayasan Abad Demokrasi—sebuah lembaga yang menerbitkan perpustakaan digital untuk isu-isu Islam dan Demokrasi. Selain itu pula, pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif ICRP periode 2008-2010. Sementara untuk tulisan kolomnya, ia juga berfokus pada isu-isu Islam, plularisme, dan dialog antar-agama.

Dengan demikian, tidak salahlah secara biografi ia menerbitkan kumpulan Puisi-Esai yang berjudul “Kuburlah Kami Hidup-hidup”. Sekilas membaca judulnya, terkesan adanya kegentingan dalam puisi-esai yang ia bukukan ini.

Dalam buku ini, ada lima puisi-esai yang disajikan. Kelima puisi itu, mengangkat tema yang tidak jauh dari fokus kajiannya; diskriminasi, pluarisme, dan dialog antar agama. Bedanya, dalam bentuk puisi-esai fokus naratif menjadi lebih segar dengan ungkapan prosaik—metafora simile—yang ada dalam puisi-esainya.

Kenapa Anick HT menulis dalam puisi-esai? Tentunya pertanyaan ini akan dijawab hanya persoalan pilihan media/bentuk saja. Karena yang terpenting dalam fokusnya adalah mengangkat isu-isu diskriminasi yang tengah (telah) terjadi di Indonesia.

Oleh karena itu, Acep Zamzam Noor dalam pengantar buku ini menyebutkan “Ketiga Puisi Anick HT; “Olenka Generasi yang Hilang,” Tuhanmu bukan Tuhanmu” dan “Kuburlah Kami Hidup-hidup,” menampakan  watak kepenyairannya ketimbang intelektualnya, atau paling tidak ada keseimbangan di antara keduanya…dengan sudut pandang tersebut ia menyuarakan apa yang menjadi gagasan.  Ia bertutur bukan sebagai peneliti, tapi sebagai tokoh fiktif yang diciptakannya. Realitas dan imaji berkelindan dalam tubuh puisi, lalu metafor yang merupakan unsur penting dari puisi juga kerapkali muncul di antara keduanya. Adapun catatan kaki menjalankan tugasnya di balik layar sebagai pemberi data tambahan, atau dalam beberapa bagian menjadi perekat antara fakta dan fiksi.” (hlm 29).

Sebagaimana diketahui bahwa puisi-esai bentuk puisi yang meramu antara fakta dan fiksi itu. Dua jenis yang dapat merangkainya hingga dapat ditemukan logika fiksi dan catatan kaki sebagai racikan data untuk menciptakan tokoh-tokoh yang bersuara kegentingan.

Pada puisi Anick HT berjudul “Olenka, Generasi yang Hilang,” ia dapat memunculkan tokoh tetua adat yang menjadi saksi penerapan syariah yang dipaksakan pemerintah Bulukumba. Sementara itu, pada puisi “Tuhanmu bukan Tuhanmu,” ia menampilkan tokoh anak FPI terhadap aliran kepercayaan di Yogyakarta. Selanjutnya pada “Kuburlah Kami Hidup-Hidup” diciptakannya tokoh korban yang menjadi saksi dari semua kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah, termasuk sejarah panjang Ahmadiyah di Lombok.

“Aku bersaksi

juga kursi roda ini

gadis kecil itu setegar karang

ia telah melewati 473 hari

tanpa sesunggih senyum pun di bibirnya” (hlm 88).

Begitulah narasi kegentingan pada pembukaan “Kuburlah Kami Hidup-Hidup”. Selain ada beberapa puisi-esai yang dapat kita baca serta cermati untuk memberikan kesadaran lain terhadap isu plurasime, dialog antar agama dan diskriminasi pada kelompok minoritas.

Oleh karenanya, tidak salah untuk menjadi buku ini sebagai ruang mencecap elemen-elemen puitika; metafora, simile dan racikan data dari pelbagai peristiwa yang terjadi dalam pergolakan diskriminasi sehingga dari kegentingan itu dapat memberikan ruang kesadaran bagi para pembacanya agar dimanifestasikan dalam laku sosial. Selamat membaca!

_____________________________________

Judul    : Kuburlah Kami Hidup-Hidup

Penulis: Anick HT

Pengantar: Acep Zamzam Noor

Penerbit: Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

Cetakan I : Januari 2014

ISBN: 978-979-18746-2-5

Peresensi : Gustaf Aminudin, Pegiat Pendidikan, Sosial dan Keagamaan, bermukim di Bandung.

Sumber: rimanews.com

abuku

Oleh: Husni Mubarok

Tinggal menghitung hari, Susilo Bambang Yudoyono (SBY) akan menyelesaikan tugasnya sebagai presiden Indonesia. Genap 10 tahun, ia menjabat sebagai kepala negara. Ada banyak hal yang sudah ia kerjakan. Ada pekerjaan yang tuntas, ada pula yang tidak. Pekerjaan yang belum atau tidak tuntas ia kerjakan, otomatis menjadi warisan untuk presiden berikutnya.

Mengingat besarnya wilayah dan kompleksitas persoalan bangsa Indonesia, SBY mewariskan seabrek pekerjaan rumah. Kali ini, saya ingin mencatat warisan SBY terkait masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Warisan pada bidang ini penting mengingat Indonesia telah meratifikasi konvensi internasional mengenai hak sipil politik.

***

Kita akan memperoleh informasi warisan SBY bidang ini dari berbagai laporan-laporan yang ditulis sejumlah lembaga, dalam maupun luar negeri. Di sana, kita akan mendapati jumlah, lokasi, dan aktor-aktor, baik negara maupun non-negara. Namun, saya tertarik melihat warisan SBY itu dari buku kecil Kuburlah Kami Hidup-hidup (2014).

Buku ini ditulis Anick HT, aktivis yang selama ini bekerja membela kebebasan beragama dan berkeyakainan. Ia memiliki pengalaman panjang mendampingi komunitas yang selama ini kesulitan hidup di Indonesia lantaran agama dan keyakinannya. Ia, dalam buku ini, merajut persoalan kebebasan beragama dari sudut pandang korban melalui puisi. Kegalauan, kesulitan dan kerisauan dalam buku ini merepresentasikan persoalan yang selama ini belum atau tidak disentuh secara serius oleh SBY.

Buku ini terdiri dari lima cerita. Cerita pertama, Anick membawa kita pada kegundahan hati tetua Patuntung—sebutan untuk aliran kepercayaan di Tanah Toa Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tetua suku Kajang gundah lantaran anak suku Kajang yang kini sudah beragama Islam menyebarkan ajaran baru itu kepada warga penganut Patuntung. Mengapa ajaran baru itu mesti menganggap ajaran Patuntung sebagai tak suci dan tak bernilai di hadapan Tuhan.

Kegundahan hati tetua suku Kajang ini merepresentasikan konflik batin antara penganut aliran kepercayaan (atau agama lokal) dengan penganut agama yang membawa misi di Indonesia. Sapto Dharmo di Yogayakarta, cerita kedua buku ini, adalah korban perseteruan ini. Sekelompok orang, menggunakan atribut FPI, menyambangi padepokan Sapto Dharmo. Dengan alasan aliran sesat dan menodai Islam, mereka obrak abrik padepokan tersebut.

Cerita ketiga, tidak kalah tragis. Penganut Ahamdiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat terusir dari tanah kelahiran karena meyakini apa yang tak dikehendaki mayoritas Muslim. Lebih dari 473 hari, mereka hidup seadanya. Mereka hidup di pengungsian setelah mereka diserang sekelompok orang beberapa kali.

Nasib serupa dialami sejumlah umat Kristen di Jakarta dan sekitarnya, pada cerita keempat. Mereka tak dapat mendirikan gereja. Ada gereja baru sosialisasi hendak mendirikan gereja, ditolak warga. Gereja lainnya telah mendapat dukungan warga sebagaimana dipersyaratkan regulasi, juga ditolak warga. Bahkan, gereja lainnya sudah mendapat izin mendirikan bangunan (IMB) tak dapat membangun gerejanya.

Cerita kelima, buku ini mengisahkan seorang pengembara yang mempertanyakan posisi Tuhan di tengah-tengah penindasan dan penderitaan umat manusia.

***

Berkaca pada cerita di atas, paling tidak ada tiga warisan persoalan yang harus diemban presiden baru. Warisan pertama adalah mengupayakan penganut aliran kepercayaan mendapat tempat yang setara dengan penganut agama lainnya di Indonesia. Harus diakui bahwa rezim SBY mewarisikan satu kebijakan baik dalam konteks aliran kepercayaan. Pemerintah membolehkan penganut aliran atau agama lokal mengisi dengan nama agamanya atau mengoosongkan kolom agama pada kartu identitas (KTP).

Kebijakan itu tentu saja langkah maju yang patut diapresiasi, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan persoalan. Meski sudah boleh mengosongkan kolom agama, tetapi administrasi lain tidak otomatis mengikuti. Misalnya, surat nikah, akta kelahiran anak dan seterusnya. Mereka juga masih mendapat perlakuan diskriminatif di sekolah, di tempat kerja, di kelurahan, sampai di tempat pemakaman umum.

Warisan berikutnya adalah pengungsi akibat konflik antar sekte keagamaan. Penganut Ahmadiyah di NTB dan Syiah di Jawa Timur adalah dua kelompok yang masih mengungsi lantaran kampung halamannya diserang. Rezim SBY tidak mampu mengembalikan mereka ke tempat asalnya. Di tempat pengungsian, mereka tidak dapat fasilitas pendidikan layaknya warga biasa; mereka tidak dapat layanan kesehatan normal; bahkan anak yang menjelang dewasa tak mendapatkan kartu identitas sebagaimana warga lainnya.

Warisan lainnya adalah masalah pendirian tempat ibadat. di pulau Jawa, umumnya masalah menimpa mereka yang ingin mendirikan gereja. Sementara di wilayah seperti Nusa Tenggar Timur, orang terhambat untuk mendirikan masjid. Di sejumlah tempat, vihara dan tempat ibadat lainnya tidak bisa mereka bangun. Masalah ini bisa melebar jika terus menerus dibiarkan.

***

Betul bahwa SBY pernah mendapat penghargaan “World Statesman Award” dari Appeal of Conscience Foundation karena dianggap telah memelihara perdamaian bersama dan meningkatkan hak asasi manusia, kebebasan beragama dan kerjasama antaragama. Faktanya, ia mewariskan masalah sosial keagamana yang sangat serius.

Kurang dari empat bulan ke depan, kita akan mempunyai presiden baru. Ia harus bersiap menanggung dan menyelesaikan tiga warisan SBY di atas. Jika prediksi sejumlah lembaga survey benar bahwa Jokowi yang akan menjadi presiden Indonesia berikutnya, peluang untuk mengatasi warisan masalah di atas cukup terbuka. Terbukti, Jokowi tegas mempertahankan Susan Jasmin sebagai lurah Lenteng Agung, yang diprotes sejumlah warga karena agamanya. Ia bertahan, dan pemrotes sedikit demi sedikit berguguran.

Namun jika hasil survey-survey itu meleset, dan kita mendapatkan presiden lain, maka perlu kerja ekstra untuk mendesakkan kesetaraan warga negara dalam meyakini dan menjalankan keyakainannya itu.

Siapapun presidennya, buku Kuburlah Kami Hidup-hidup perlu dibaca para pemimpin negeri ini untuk dapat merenungi dan merasakan apa yang diderita dan dirasakan warga kelompok minoritas di Indonesa. Melalui buku ini juga, kita akan tahu sebagian dari masalah yang diwariskan rezim SBY kepada presiden berikutnya.

Sumber: Inspirasi.com

Judul buku ini sangat memiriskan: Kuburlah Kami Hidup-hidup. Nampaknya judul ini diambil dari surat keputusasaan yang dikirimkan oleh pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito, Mataram, setelah bertahun-tahun mereka tinggal di pengungsian tanpa kejelasan status.

Ini adalah sebuah buku yang memotret kisah-kisah tragis kaum minoritas di Indonesia, negeri yang demokratis dan menjunjung tinggi toleransi. Buku ini mengungkap fakta-fakta miris betapa kelompok minoritas di negeri ini masih mengalami diskriminasi, persekusi, dan kekerasan. Kebhinnekaan dan kemajemukan yang dianggap sebagai aset penting pemersatu bangsa seperti halnya jargon-jargon yang dipertontonkan oleh para pejabat tinggi, dalam realitasnya justru seringkali menjadi alasan untuk menebar kebencian antar kelompok.

Meski cukup banyak hasil riset dan laporan media tentang tren intoleransi ini, namun kepedulian publik terhadap masalah ini masih sangat minim. Meski juga sudah banyak lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi terhadap isu ini, namun sepertinya negara tersandera oleh kelompok masyarakat yang lebih besar yang seringkali menghalalkan kekerasan untuk mengekspresikan keinginan mereka. Bahan tak jarang kita melihat aparat negara yang sangat supportif terhadap kelompok intoleran yang makin marak.

Keresahan dan derita kaum minoritas semacam inilah yang coba ditebarkan oleh penulis buku ini, Anick HT. Buku ini memuat lima kisah dramatis yang menimpa kelompok minoritas. Kisah pertama adalah tentang tergerusnya agama lokal berhadapan dengan agama mayoritas yang melakukan dakwah atau penginjilan. Kisah kedua adalah kisah tentang kelompok penghayat kepercayaan Sapta Darma yang karena dalam KTP-nya harus mencantumkan satu di antara enam agama “yang diakui”, maka identitas mereka dalam KTP adalah “Islam”.

Kisah ketiga memotret kehidupan warga pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito, Mataram yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama bertahun-tahun. Kisah berikutnya adalah kisah tentang konflik batin dan dinamika kehidupan yang dialami oleh seorang pendeta yang hampir putus asa menghadapi kesulitan mendirikan rumah ibadah mereka.

Kisah terakhir adalah kisah seorang anak muda pencari Tuhan. Kisah ini menggambarkan dengan apik proses dialog seorang anak manusia dengan Tuhannya, dialog dan perjumpaan dia dengan agama-agama yang ada, hingga pertanyaan eksistensial tentang Tuhan itu sendiri.

Buku yang disebut bergenre puisi esai ini memang dengan jernih memetakan persoalan dan realitas yang disorotnya, baik melalui narasi puisinya maupun melalui catatan kaki yang sangat detil dan lengkap. Puisi esai sendiri diperkenalkan oleh Denny JA melalui bukunya: Atas Nama Cinta (Renebook, 2012). Meski perdebatan tentang puisi bercatatan kaki masih cukup ramai, namun seperti pengakuannya, Anick HT menganggap bahwa format puisi esai ini “mampu menampung luapan amarah yang menggelayut, lalu menularkan amarah itu kepada pembaca, tanpa harus berjarak terlalu jauh dengan bayangan makna yang dipahat dari imaji dan metafor yang terlalu melangit. Di lain pihak, jarak yang sama jauhnya juga seringkali dibangun oleh keniscayaan prosedural ilmiah atawa etika jurnalistik yang harus diamini oleh para penulis fakta.” (h. 17)

Membaca buku ini seperti membaca kepedihan dan tragedi kemanusiaan yang menimpa kelompok minoritas di Indonesia. Penulisnya berhasil menghadirkan secara dramatik kasus-kasus penting dalam konteks relasi antar-agama dan relasi antara agama dengan negara. Melalui perpaduan antara fiksi dan fakta, buku ini seperti menularkan keresahan dan konflik batin yang dialami para korban diskriminasi.

Buku ini menyentil kesadaran pembacanya untuk turut ambil bagian dalam kekacauan yang ada di negeri demokrasi ini. Buku ini juga mengingatkan kita untuk mengembalikan agama pada fungsi fitrahnya, membebaskan dan mencerahkan. []

Judul buku : Kuburlah Kami Hidup-hidup
Penulis : Anick HT
Penerbit : ICRP dan Inspirasi.co
Halaman : 170 halaman.
Edisi : Cetakan Pertama, Januari 2014

resensi tangsel pos 22 feb kecil

Sumber: Tangsel Pos, Edisi Weekend: Sabtu-Minggu, 22-23 Februari 2014

undangan anick pers kecil

Sebuah buku karya Anick HT, seorang pegiat advokasi isu pluralisme dan kebebasan beragama, yang berjudul “Kuburlah Kami Hidup-hidup” lahir sebagai keprihatinan Anick atas persoalan proses bernegara yang belum selesai.

Hari ini, Minggu (16/2) pukul 18.00 – 22.30 WIB, buku ini akan diluncurkan secara resmi di Pisa Kafe Mahakam, Jakarta Selatan.

Buku ini memuat lima kisah diskriminasi panjang yang dialami beberapa kelompok minoritas di Indonesia. Meskipun konstitusi negeri ini sudah menjamin kesetaraan antarwarga negara dan kebebasan beragama, namun hingga saat ini diskriminasi terhadap kelompok minoritas masih terus terjadi.

Anick melihat banyak kasus diskriminasi itu yang tak terselesaikan dan mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi para korban.


jika sama sekali tidak ada tempat bagi kami,
di bui tidak ada tempat bagi kami,
di pembuangan sampah tidak ada,
di pekuburan-pekuburan juga tidak ada,
maka galikanlah bagi kami, Tuan Penguasa,
kuburan
kami seluruh warga pengungsi,
laki-laki, perempuan, tua, muda maupun anak-anak,
siap dan ikhlas dikubur hidup-hidup

Kutipan di atas adalah sebagian isi surat warga Ahmadiyah yang sejak 2006 tinggal di Asrama Transito, Mataram. Surat tersebut termuat sebagai bagian dari buku puisi esai berjudul “Kuburlah Kami Hidup-hidup” karya Anick.

Menurut Anick, sebagian orang, bahkan juga bagi kebanyakan aparat negara melihat kehidupan antaragama di negeri ini berjalan dengan sangat normal dan toleransi di masyarakat sudah sangat kuat. Kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap umat Kristen, Ahmadiyah, Syiah, agama-agama lokal, yang mewarnai keseharian masyarakat seakan tidak terjadi.

Kalaupun mereka tahu, mereka menganggap ini hanya kasus kecil yang tidak terlalu penting. Namun bagi kelompok minoritas yang selama ini menjadi korban diskriminasi dan persekusi, negara ini sudah abai terhadap hak-hak konstitusional warganya.

Buku ini mencoba membuka mata dan ingatan publik bahwa ada lebih dari 100 orang warga negara yang sah di negeri ini yang sudah hampir delapan tahun hidup di pengungsian, hanya karena mereka menganut Ahmadiyah.

Juga bahwa di balik kasus penutupan dan sulitnya mendapatkan izin pendirian gereja, ada ribuan, mungkin puluhan ribu warga negara yang sah tidak bisa mendapatkan haknya secara penuh untuk beribadah, hanya karena mereka Kristen. Dan di balik proses beragama yang kelihatan normal, jutaan penganut agama lokal (penghayat kepercayaan) menjadi korban diskriminasi dan persekusi, hanya karena dianggap belum beragama.

Dalam pengantarnya, Anick HT menegaskan bahwa buku ini diniatkan sebagai bagian dari upaya membangun keresahan dan menebarkannya.

“Kita harus resah ketika di tengah hiruk-hiruk dan pikuk-pikuk kehidupan normal kita, sebagian saudara kita dipaksa untuk menjadi hipokrit di sepanjang sisa hidupnya sebagai warga negara yang sah, hanya karena tidak mampu mencantumkan identitas yang melekat dalam dirinya: keyakinannya sendiri.

Sebagian yang lain selama belasan tahun hidup terasing di negeri sendiri. Sebagian lainnya bahkan mati terbunuh, lalu dilupakan begitu saja. Hanya karena mereka berbeda. Ya, hanya karena perbedaan keyakinan; sesuatu yang fitri.” (h. 16)

Meskipun berbentuk puisi-esai, sebuah genre yang diperkenalkan oleh Denny JA lewat gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi-nya, puisi Anick HT ini sangat mudah dipahami dan berhasil memotret emosi pembacanya untuk turut merasakan apa yang dirasakan kelompok minoritas.

Anick HT sendiri mengakui bahwa justru dengan format puisi seperti inilah ia berhasil “menampung luapan amarah yang menggelayut, lalu menularkan amarah itu kepada pembaca, tanpa harus berjarak terlalu jauh dengan bayangan makna yang dipahat dari imaji dan metafor yang terlalu melangit. Di lain pihak, jarak yang sama jauhnya juga seringkali dibangun oleh keniscayaan prosedural ilmiah atawa etika jurnalistik yang harus diamini oleh para penulis fakta.” (h. 17)

Di tengah kuatnya fenomena kekerasan atas nama agama, buku ini merupakan protes dan sinisme terhadap peran agama dan tokohnya, serta peran negara dan aparatnya. Buku ini menggugah pembaca untuk bukan hanya merasakan kepiluan para korban, sekaligus menggugah untuk turut ambil bagian dalam kekacauan relasi antar-agama di negeri ini. Juga mengingatkan kita bahwa proses kita bernegara belum selesai.

Judul buku : Kuburlah Kami Hidup-hidup
Penulis : Anick HT
Penerbit : ICRP dan Inspirasi.co
Halaman : 170 halaman
Edisi : Cetakan Pertama, Januari 2014

(satuha/kp)

Sumber: kabarpolitik.com

Rakyat Merdeka

Judul buku : Kuburlah Kami Hidup-hidup
Penulis : Anick HT
Penerbit : ICRP dan Inspirasi.co
Halaman : 170 halaman.
Edisi : Cetakan Pertama, Januari 2014

Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa, termasuk keragaman agama dan keyakinan. Konstitusi yang dianutnya menjamin kesetaraan antar warganya, tanpa melihat suku, agama, dan ras. Konstitusi juga menjamin kebebasan warganya untuk memeluk agama dan beribadah menurut keyakinan mereka. Meski begitu, belakangan ini muncul begitu banyak fenomena kekerasan atas nama agama, dan juga muncul banyak kebijakan bernuansa syariat karena tuntutan dan atas nama mayoritas. Dalam hal ini, kelompok minoritaslah yang kerap menjadi korban, baik diskriminasi, kekerasan, dan bahkan dalam beberapa kasus, korban jiwa tak terhindarkan, seperti dalam kasus warga Ahmadiyah di Cikeusik.

Potret kehidupan kaum minoritas yang menjadi korban inilah yang ditampilkan oleh Anick HT dalam buku ini. Buku ini memuat lima kisah dramatis yang menimpa kelompok minoritas. Kisah pertama adalah tentang tergerusnya agama lokal berhadapan dengan agama mayoritas yang melakukan dakwah atau penginjilan. Kepercayaan Patuntung yang sudah dianut oleh warga Suku Kajang turun temurun harus berhadapan dengan pendatang yang membawa agama baru dari luar.

Kisah kedua adalah kisah tentang kelompok penghayat kepercayaan Sapta Darma yang karena dalam KTP-nya harus mencantumkan satu di antara enam agama “yang diakui”, maka identitas mereka dalam KTP adalah “Islam”. Namun salah satu ormas Islam memprotes dan melakukan penyerangan ke padepokan mereka karena mereka dianggap sesat; beribadah menghadap ke Timur.

Kisah ketiga memotret kehidupan warga pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito, Mataram yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama bertahun-tahun, setelah kampung diserang dan diporakporandakan. Kisah inilah yang nampaknya menginspirasi Anick HT untuk memilih judul “Kuburlah Kami Hidup-hidup”, berdasarkan sebuah surat yang ditulis oleh warga pengungsi kepada Walikota Mataram saat itu.

Kisah berikutnya adalah kisah tentang konflik batin dan dinamika kehidupan yang dialami oleh seorang pendeta yang hampir putus asa menghadapi kesulitan mendirikan rumah ibadah mereka di negeri yang menjamin kebebasan beragama.

Kisah terakhir adalah kisah seorang anak muda pencari Tuhan. Kisah ini menggambarkan dengan apik proses dialog seorang anak manusia dengan Tuhannya, dialog dan perjumpaan dia dengan agama-agama yang ada, hingga pertanyaan eksistensial tentang Tuhan itu sendiri.

Anick HT, penulis buku ini adalah aktivis isu-isu pluralisme dan dialog antar-agama. Seperti komentar KH Husein Muhammad dalam buku ini: “Anick seperti tak sabar memendam resah yang berlapis. Ia menumpahkannya dalam rangkaian kata-kata sarkasme yang manis sekaligus menggugah dan menohok. Dengan ketajaman mata hatinya, ia melihat realitas bangsa yang mendeklair diri religious itu sungguh menjerat. Agama tak lagi ramah. Ia justeru jadi pedang yang siap menebas leher mereka yang kecil, lemah dan tersingkir. Dan ia ingin menyentuh kesadaran pembaca “Pusi Essai”nya ini untuk kembali kepada makna genuine agama: “membebaskan dan mencerahkan”. (h. 7) []

Sumber: Rakyat Merdeka Cetak, 17 Februari 2014, h.6

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.